Total Pageviews

Monday, June 7, 2010

Resensi Buku "Fatmawati Sukarno: The First Lady" di Koran Jakarta

Mengenang Sang Penjahit Bendera

Judul Fatmawati Sukarno; The First Lady

Penulis Arifin Suryo Nugroho Penerbit Ombak, Yogyakarta

Tahun I, 2010

Tebal xx + 278 halaman

Harga Rp 60.000

Sang Dwiwarna, Merah Putih, merupakan bendera Indonesia yang mengidentitaskan kebang-sanegaraannya. Lebih dari itu, bendera yang bermakna semiotik-filosofis berani dan suci itu menjadi sebuah lambang kebanggaan warga negara Indonesia. Sejarah kemerdekaan Indonesia pun terukir di balik warna merah dan putih tersebut. Sejarah kemerdekaan Indonesia tecermin pula pada penjanjian bendera pusaka tersebut.

Adalah Fatmawati, seorang perempuan Indonesia yang menjahit bendera tersebut sehingga pada 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dimeriahkan dengan pengibaran bendera. Meskipun bendera tersebut tidak sesuai dengan standar ukuran bendera yang seharusnya, kain dua warna yang terjahit menjadi satu itu kemudian menjadi bendera yang sangat disakralkan oleh bangsa Indonesia. Nama Fatmawati pun tercatat dalam sejarah sebagai wanita penjahit bendera pusaka.

Arifin Suryo Nugroho, melalui bukunya berjudul Fatmawati Sukarno; The First Lady, menguraikan biografi sang penjahit bendera tersebut dengan ulasan yang menarik. Fatmawati, seorang wanita asli Indonesia yang telah berjasa menjahit bendera pusaka tersebut, merupakan perempuan penting dalam sejarah kemer-dekaan Indonesia.

Fatmawati sebagai ibu negara setelah Soekarno dipilih menjadi presiden Indonesia yang pertama, dengan setia mendampingi sang suami tersebut. Hingga akhirnya, prahara rumah tangga pun terjadi. Kehadiran Hartini telah mengguncang rumah tangga Soekarno-Fatmawati. Hingga akhirnya Fatmawati memilih keluar dari istana dan hidup menyendiri tanpa Soekarno. Meski demikian, cinta Fatmawati terhadap Soekarno tidaklah sirna. Begitu juga dengan cinta Soekarno kepada Fatmawati, hanya saja telah terbelah kepada Hartini yang kemudian menyusul Haryati, Yurike, dan Naoko Nemoto atau Ratna Sari Dewi.

Semenjak itu, Fatmawati hidup tanpa sosok suami di dalam rumahnya meskipun status perikahannya belumlah terputus atau diceraikan. Namun, Fatmawati yang bersikap an-tipoligami tetap berkeras kepala untuk tidak kembali lagi ke istana. Hingga akhirnya situasi politik di Indonesia pun kacau dan banyak fitnah.

Soekarno sebagai presiden pikirannya terforsir oleh situasi politik yang kacau tersebut sehingga sangat menyibukkan dirinya. Kekacauan itu melonjak pada klimaksnya ketika Soekarno dikudeta oleh Soeharto dengan legitimasi Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Mulai saat itu, kesehatan Soekarno pun terus menurun dan mengantarkannya ke gerbang ajal.

Kepergian Soekarno menjadi tekanan dan pukulan bagi Fatmawati. Meskipun cinta Soekarno telah terbelah, Fatmawati masih menaruh rasa cinta pada sang proklamator kemerdekaan Indonesia tersebut. Dengan membaca buku ini, pembaca diajak untuk mengulas biografi Fatmawati yang pernah men]adifirst lady di Indonesia. Dari biografi tersebut, banyak pelajaran yang dapat diambil tentang sosok Fatmawati dan selebihnya sejarah Indonesia dari masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga setelah kemerdekaan. Selain itu, para pembaca akan dikenalkan dengan sejarah Indonesia yang dibaca dari sisi Fatmawati sebagai pemeran utamanya.

Peresensi adalah Supriyadi,pengamat sosial pada Fakultas Tarbiyah Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Resensi Buku "Fatmawati Sukarno: The First Lady" di Koran Tempo


First Lady dari Pasar Malro



Meminjam perhiasan milik istri sekretaris negara saat melakukan kunjungan kenegaraan.

Persiapan kemerdekaan di rumah Soekarno penuh dengan keterbatasan, misalnya perlengkapan. Kejar-mengejar dengan Jepang, yang kalah perang, membuat pejuang saat itu panik sehingga tak sempat memikirkan hal-hal kecil, salah satunya menyiapkan bendera merah putih. Ceritanya, saat naskah proklamasi akan dibacakan, para pemuda kebingungan mencari bendera. Kegaduhan ini didengar Fatmawati yang saat itu sedang melangkah keluar di dekat pintu. Langkahnya pun berbelok menuju kamarnya untuk mengambil bendera. Kain berwarna merah putih itu ia berikan kepada seseorang yang berdiri di depan kamarnya.

Jasa Fatma tidak sekadar menjahit bendera. Sebagai ibu negara pertama Indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan first lady, dia harus mendampingi Bung Karno menjalin lobi dengan negara-negara lain. Tak jarang ia melakukan sesuatu untuk mengisi acara dalam kunjungan kenegaraan. Salah satunya, ketika berkunjung ke Pakistan, Fatma, yang pandai membaca Al-Quran, melantunkan ayat-ayat suci dalam salah satu perjamuan.Bertemu dengan para pemimpin negara lain, Fatma ingin tampil layaknya ibu negara. Saat melakukan kunjungan ke India, Fatma meminjam perhiasan istri sekretaris negara. Keadaan saat itu memang memprihatinkan, tapi Fatma berusaha semampunya memerankan posisi ibu negara. Istri ketiga Bung Karno itu juga kerap memasak untuk tamu-tamu negara. Salah satunya ketika menjamu Presiden Amerika Serikat FYanklin D. Roosevelt. Ibu Negara Abang Sam saat itu, Eleanor Roosevelt, memuji sate ayam buatan Fatma.

Fatma lahir di Pasar Malro, Bengkulu, 5 Februari 1923. Dia anak Hassan Din dan Siti Chadijah, keduanya aktivis Muhammadiyah. Hassan lebih dulu kenal Bung Karno. Ceritanya, ketika Bung Karno diasingkan ke Bengkulu, Hassan melobi Bung Karno untuk mengajar di sekolah Muhammadiyah. Tawaran itu diterima sampai akhirnya Fatma diangkat menjadi anak angkat Bung Karno dan Inggit, istrinya.Saat Fatma akan dilamar oleh seorang pemuda, dia meminta pertimbangan kepada Bung Karno. Namun bukan nasihat yang didapatkan, melainkan ungkapan rasa cinta Bung Karno kepada Fatma. "Fat, terpaksa aku mengeluarkan perasaan hatiku padamu. Begini Fat. Seharusnya aku sudah lama jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku bertemu denganmu, waktu kau ke rumahku dahulu pertama kali," begitu diucapkan Bung Karno.

Rupanya Fatma menaruh perasaan yang sama kepada proklamator itu. Perbedaan usia yang jauh tidak membuat keduanya meredam rasa cinta. Situasi itu memicu pertengkaran Bung Karno dengan Inggit, yang kemudian berakhir dengan perceraian. Selanjutnya, Bung Karno menikahi Fatma. Tapi ia tidak hadir langsung saat akad nikah itu di Bengkulu, melainkan mengutus wakil. Sebab, saat itu Bung Karno di Jakarta sibuk menggalang kemerdekaan.Setelah pernikahan itu, Fatma dan keluarga diboyong ke Jakarta. Keduanya dianugerahi lima anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Tapi sayang, pernikahan mereka kandas karena Bung Karno menikah lagi. Fatma pergi dari Istana Negara. Fatma tinggal di rumah Kebayoran Baru, Jakarta. Meski berpisah, Fatma tetap menaruh cintanya kepada Bung Karno, yang memang pandai merangkai kata-kata manis untuk perempuan.

Tidak banyak sejarah yang mengupas Fatmawati. Tapi buku Fatmawati Sukarno The First Lady mampu menyajikan cerita lebih lengkap tentang ibu negara itu. Pembaca akan menemukan cerita-cerita baru tentang Fatma dan hubungannya dengan Soekarno. Penulis buku, Arifin Suryo Nugroho, mampu merangkai kehidupan Fatma dari kecil sampai meninggal.Meski sumber buku berasal dari buku sejarah, berita media, dan catatan pribadi, tapi penulis mampu meramunya menjadi cerita yang menarik. Penulis berhasil menyelipkan kutipan-kutipan asli di antara cerita itu. Beberapa kutipan cukup pas dihadirkan, namun beberapa di antaranya terlampau panjang. Misalkan kutipan saat Rachmawati kecewa terhadap Fatma, yang melarang mengenakan gaun pemberian Hartini, istri keempat Soekarno.Buku ini cukup enak dibaca dan tidak bertele-tele. Meski demikian, beberapa isinya hampir kehilangan fokus tentang Fatma. Misalkan saat penulis menerangkan tentang lagu Natal Sttile Nacht, yang mengiringi Fatma berperan sebagai Bunda Maria di sekolahnya. Meski tidak banyak, seharusnya penulis membersihkan cerita-cerita mengganggu ini.